Cerpen


Percaya nggak, sih? Kalo Julia bisa membuat cupcake? Setahu Olive, Julia itu enggak bisa masak. Saat pelajaran masak di sekolah, masakan Julia gosong. Kue buatannya sangat pahit. Uh, sampai-sampai Olive buang kuenya saat Julia sedang keluar ruang memasak.

Tadi malam, Julia menelpon Olive. Julia mengajak Olive dan Metta untuk main ke rumahnya pagi ini. Julia bilang, ia baru saja membuat cupcake.

Pagi harinya, Olive dan Metta berangkat ke rumah Julia bersama-sama. Karena hari ini hari Minggu, jadi mereka tidak sekolah. Harusnya, sih, hari Minggu ada jadwal ekstrakulikuler. Olive dan Metta memilih ekstrakulikuler memasak yang dilaksanakan hari Sabtu. Jadi, mereka berdua bisa santai-santai di hari Minggu. Julia sendiri memilih ekstrakulikuler melukis yang dilaksanakan hari Kamis.

"Pagi, Olive. Pagi, Metta. Silakan masuk," sapa mamanya Julia saat Olive dan Metta sudah di depan pintu rumah Julia. "Julia ada di dapur sedang membuat cupcake. Kalian langsung ke dapur saja, ya," sambung mama Julia.

"Baik Tante Alexa," kata Olive dan Metta berbarengan. Mereka berdua memang memanggil mama Julia dengan sebutan tante. Begitu juga kalau Metta dan Julia memanggil mama Olive dengan sebutan tante. Mama Metta juga dipanggil tante.

Olive dan Metta segera membungkukkan badan tanda permisi saat melewati tante Alexa yang sedang menyapu teras rumah. Olive dan Metta langsung ke dapur menemui Julia.

"Hai, Julia," sapa Olive dan Metta bersamaan. Julia langsung menengok.

"Hai, Olive, Metta. Ayo, lihat! Aku sedang membuat cupcake," jawab Julia.

Julia segera mengenakan celemeknya. Setelah itu, Julia mencampur bahan-bahan untuk membuat cupcake. Olive dan Metta hanya melihat saja.

"Tadi malam, aku menyuruh mamaku untuk mencoba cupcake buatanku. Setelah mencoba, kata mama cupcake buatanku sangat enak. Sayangnya, mama hanya memakan satu karena katanya masih kenyang. Cupcake-nya masih tersisa. Mama bilang, karena cupcake-nya enak, jadi sayang untuk dimakan. Jadi disisakan saja," kata Julia panjang lebar menceritakan kisahnya tadi malam. Julia masih sibuk dengan adonan-adonan cupcake.

"Ka ... kamu belajar dari mana ... mem ... buat cupcake?" tanya Metta ragu-ragu. Metta itu orangnya sangat menjaga kebersihan dirinya dan lingkungannya. Makanya, Metta menanya dahulu kepada Julia, dia belajar membuat cupcake dari mana. Metta tidak mau memakan makanan sembarangan.

"Aku buat sendiri. Aku coba-coba saja. Tapi kata mamaku enak, kok. Sayang untuk dimakan, jadi disisakan saja," jawab Julia.

"Oke," kata Metta.

Setelah itu, Julia memanggang cupcake-nya. Mereka menunggu sambil mengobrol tentang ekstrakulikuler yang akan mereka pilih saat kelas VIII. Memang, di sekolah mereka, setiap sudah naik kelas, boleh memilih ekstrakulikuler baru. Kalau mau pilih yang sebelumnya lagi juga boleh.

"Oooh, aku akan pilih ekstrakulikuler memasak pastinya!" kata Julia percaya diri. "Aku, kan, sudah bisa membuat kue," sambung Julia.

"Aku akan pilih journalistik saja, deh," kata Meta sambil tersenyum.

"Aku akan pilih ... hmmm ... apa, ya?" Olive berpikir-pikir. "Aha! Aku pilih musik saja, deh! Aku mau melatih kemampuanku bermain biola dan drum," sambung Olive.

Julia bangkit dari kursi yang ia duduki. Ia berjalan ke arah oven. Ia memakai sarung tangan tebal anti panas berwarna pink muda. Julia berdiri di depan oven sambil memegangi perutnya yang mungkin terasa lapar.


Sebenarnya, Olive dan Metta juga lapar. Mereka menunggu cupcake buatan Julia matang.

Tak lama, Julia membuka oven. Dia mengambil tiga cupcake dari dalam oven. Setelah mengambil tiga cupcake itu dari dalam oven, Julia meletakkan tiga cupcake itu ke atas meja.

Mereka menunggu beberapa menit agar cupcake-nya dingin.

Setelah dingin, Julia menghias ketiga cupcake itu. Julia menuliskan nama "Julia" di atas cupcake itu.

Setelah dihias. Saatnya dimakan! Olive dan Metta sangat lapar. Ditambah melihat cupcake.

"Untuk Metta warna hijau, untuk Olive warna biru. Dan, untukku warna ungu," kata Julia sambil memberikan masing-masing satu cupcake untuk Metta dan Olive.

"Hmm ... yummy," gumam Julia memuji cupcake buatannya sendiri. Sedangkan Olive dan Metta masih ragu-ragu. Mereka hanya menelan ludah.

"Kenapa? Ayo dimakan!" seru Julia. Olive pun perlahan memakannya. Sedangkan Metta masih diam saja.

"Hmmp." Olive berhenti memakan cupcake-nya. Mulutnya menggembung, di dalam mulutnya ada cupcake yang ia gigit tadi.

"Kenapa? Aku ambilkan tisu dulu, ya," kata Julia sambil bangkit dari kursinya ke lantai atas. Saat Julia sudah benar-benar ke atas, Olive segera ke tempat sampah yang berada di dekatnya. Ia membuang cupcake yang ada di mulutnya, lalu kembali duduk tenang. Tapi, ia langsung meminum air putih yang sedari tadi ada di meja.

"Kenapa, Liv?" tanya Metta heran.

"Eng ... Eng ... Enggak enak," jawab Olive sambil menaruh gelas berisi air putih ke atas meja.

"Oooh. Makanya aku tidak makan. Aku tahu, Julia tidak pintar membuat kue atau memasak. Tapi, kamu jangan bilang cupcake-nya tidak enak. Kasihan Julia," kata Metta seraya menaruh cupcake-nya di atas meja.

"Jadi, aku harus bohong?" tanya Olive sambil menunjuk wajahnya.

"Enggak bohong juga .... Kita hanya ingin tidak membuat kecewa Julia. Itu maksudku," jawab Metta santai.

"Iya. Julia, kan, mudah sedih," tambah Olive.
Tak lama, Julia datang sambil menggenggam satu bungkus tisu dan menaruhnya di atas meja.

"Lho, kok, punya Metta tidak dimakan?" tanya Julia sambil cemberut, ia kembali duduk di kursi sambil menunduk.

"Eh ... eh ... di ... dimakan, kok. Ta ... tadi aku sudah mencicipi milik Olive. Te ... ternyata enak! Benar, enak! Cupcake-nya akan aku bawa pulang. Keluargaku harus mencicipinya," alasan Metta. Ia bangkit dari kursinya lalu duduk di samping Julia. Metta memeluk tubuh kecil Julia yang sedang cemberut. "Serius. Enak!" kata Metta.

"Serius?" tanya Julia.

"Iya," jawab Metta.

"Serius?"

"Iya."

"Yeeeee ...!" sorak Julia senang. Ia loncat-loncat di lantai saking senangnya. Metta dan Olive hanya tersenyum.

"Kalau begitu, keluarga kalian harus mencicipinya. Kalau enak, akan aku beri kalian satu kotak masing-masing. Tidak apa-apa kalau cupcake-nya tidak dimakan disini. Untuk keluarga kalian. Apa, kalian mau aku buatkan lagi? Sekarang juga. Mau tidak?" tanya Julia senang.

"Eeeh ... tidak perlu repot-repot," cegah Olive. "Nanti, kalau keluargaku bilang enak, aku akan beri tahu kamu," sambung Olive.

"Oke!" jawab Julia sambil membuat lingkaran dari jari-jarinya.

"Sekarang, kami pulang dulu, ya. Sudah siang," kata Metta mewakili Olive.

Setelah berpamitan dengan tante Alexa, Metta dan Olive pulang bersama.

***

Di rumah Olive ....

"Dek, cicipi cupcake buatan teman Kakak, deh," kata Olive kepada adik perempuannya yang berumur 10 tahun.

Adik Olive mencicipi cupcake tersebut dan langsung membuang cupcake yang ada di dalam mulutnya itu.

"Huaaa ... Kakak jahaaat! Kok, kasih aku makanan yang rasanya seperti itu?! Huaaa ...," adik Olive menangus meraung-raung sambil berlari ke kamarnya. Olive diam saja, merasa bersalah. Tapi, di dalam hatinya, Olive tertawa.

***

Di rumah Metta ....

"Kakak, temanku membuat cupcake. Kakak mau coba rasanya, tidak?" tanya Metta kepada Kakaknya yang sedang membaca koran di halaman belakang rumah.

"Boleh," Kak Liana mulai mencicipinya.

"Hah? Bikinan siapa ini?" tanya Kak Liana terheran-heran. Tapi, dia sudah menelan gigitan cupcake itu. Hahaha ...!


"Temanku," jawab Metta.

"Temanmu belajar dimana?" tanya Kak Liana lagi.

"Belajar sendiri," jawab Metta. Metta langsung pergi meninggalkan Kak Liana sambil tertawa terbahak-bahak.

*****

1 komentar: